Urutan Skema Perjalanan Haji Bagi Jamaah Asal Indonesia
Ibadah haji merupakan amalan umat muslim dalam menjalankan rukun Islam yang kelima. Syarat utama mengunjungi Baitullah di kota Mekkah adalah mampu. Kemampuan jamaah dinilai dari materi, kesiapan mental, fisik dan keamanan. Sebab, jamaah perlu menjalani urutan skema perjalanan haji yang panjang. Jika umat Islam Indonesia sudah dalam kategori mampu, maka wajib menjalankan ibadah suci ini.
Urutan Skema Perjalanan Haji
Ibadah haji akan bernilai sah jika dilakukan sesuai dengan syariat. Maka dari itu, para jamaah harus mematuhi syarat dan rukun haji. Kelancaran memenuhi dalam panggilan Allah SWT tergantung dari pengetahuan yang dimiliki. Sebelum keberangkatan, sangat penting memahami urutan perjalanan haji sesuai tuntunan Nabi Muhammad saw. Untuk mencegah terjadinya kesalahan saat beribadah ke tanah suci.
Ihram
Ketika sampai Arab Saudi, jamaah melakukan ihram terlebih dahulu. Ihram dilakukan dari miqat. Merujuk pada sebuah batas wilayah yang telah ditentukan. Di tempat ini jamaah memantapkan dan mengucapkan niat melakukan ibadah haji.
Bagi laki-laki, berganti pakaian menggunakan kain ihram berupa 2 lembar kain putih yang tidak dijahit. Sedangkan perempuan, mengganti pakaian lama dengan pakaian syar’i. Pakaian tersebut harus menutupi seluruh anggota tubuh, kecuali wajah dan telapak tangan.
Wukuf
Selanjutnya, jamaah melakukan ibadah wukuf. Bisa dibilang, wukuf merupakan inti dari rangkaian haji. Tahap ini, wukuf melakukannya sejak tergelincir matahari (zuhur) tanggal 9 Dzulhijah, lalu berakhir sampai terbit fajar (subuh) tanggal 10 Dzulhijah, bukan matahari terbit. Di sini jamaah perlu memperbanyak amalan dengan mendengarkan khutbah, berdzikir, membaca Al-Quran, istighfar dan sholat.
Mabit di Muzdalifah
Dalam perjalanan menuju Mina, jamaah singgah sebentar untuk bermalam (mabit) di Muzdalifah. Jamaah melaksanakan mabit hingga menjelang subuh. Hukum menginap di Muzdalifah ini adalah wajib.
Sebab sudah menjadi alur dalam pelaksanaan haji. Jika melanggar atau meninggalkan tahap ini, maka akan dikenakan sanksi. Sanksi tersebut berupa membayar denda (dam) sesuai ketentuan syar’i. Di sini, jamaah mulai mengumpulkan kerikil untuk persiapan lempar jumroh.
Lempar Jumroh
Pada tanggal 10 Dzulhijah, mulai bertolak dari Muzdalifah menuju Mina. Sesampainya di Mina, jamaah melakukan lempar jumroh Aqabah. Jamaah melemparkan batu kerikil sebanyak 7 kali ke arah jumroh Aqabah. Salah satu dari tiga tiang untuk lempar jumroh di Mina. Ini sebagai bentuk manusia yang melawan hawa nafsu. Sekaligus meneladani kisah Nabi Ibrahim AS saat menghadapi ujian keimanan.
Tahalul Awwal
Selanjutnya, jamaah mengerjakan tahalul awwal. Diwajibkan mencukur rambut minimal sebanyak 3 helai. Ini dilakukan sebagai tanda telah berakhirnya larangan ihram. Tapi, tetap ada larangan untuk akad nikah, jimak dan bercumbu.
Tawaf Ifadhah
Dalam tawaf ifadah, jamaah mengelilingi Ka’bah dengan arah yang berlawanan jarum jam. Tawaf ini dilakukan sebanyak 7 putaran. Tawaf dimulai dari Hajar Aswad dan berakhir di tempat yang sama. Ketika melakukan tawaf ifadhah, jamaah memperbanyak doa, dzikir, atau bacaan lain.
Sa’i
a’I dilakukan dengan cara lari-lari kecil di antara bukit Shafa dan Marwah. Jamaah berlari-lari kecil bolak-balik sebanyak 7 kali. Saat melakukan sa’I, jamaah bagusnya dalam kondisi suci dari hadast dan najis. Sa’I dimulai dengan mengucapkan niat sambil menghadap ke Ka’bah.
Tahalul Tsani
Pada tahap selanjutnya, jamaah melakukan tahalul yang kedua atau tahalul Tsani. Tahap ini menandakan telah berakhirnya seluruh larangan ihram. Sekaligus sebagai pertanda sudah selesai melaksanakan rukun haji utama.
Mabit di Mina
Setelah itu, jamaah kembali bertolak ke Mina. Jamaah menginap di Mina pada tanggal 11-13 Dzulhijah yang disebut sebagai hari tasyrik. Pada hari tersebut, dilanjutkan melempar jumroh wusta, ula dan aqabah. Masing-masing menggunakan 7 batu kerikil setiap hari.
Tawaf Wada
Tawaf Wada disebut juga dengan tawaf perpisahan. Ini menandakan rangkaian ibadah haji telah selesai. Sebelum meninggalkan Mekkah, jamaah memberikan penghormatan terakhir pada Baitullah.
Rukun islam yang kelima bukan hanya sekedar ibadah penyempurna. Dalam pelaksanaannya membutuhkan persiapan yang menyeluruh. Jamaah perlu menyiapkan fisik dan mental yang kuat. Agar dilancarkan dalam melaksanakan skema perjalanan haji sehingga kembali ke tanah air sebagai haji yang mabrur.