Apa yang Terjadi pada Jantung Pria yang Lari 366 Maraton Berturut-turut?

Bayangkan lari maraton setiap hari selama setahun penuh! Inilah yang dialami Hugo Farias—dan hasil pemeriksaan medisnya justru bikin takjub. Cari tahu apa yang terjadi pada tubuh dan jantungnya.
Apa yang Terjadi pada Jantung Pria yang Lari 366 Maraton Berturut-turut?
Jantung Pria yang Lari 366 Maraton Berturut-turut

Bayangin kamu lari sejauh 42 kilometer setiap hari selama satu tahun penuh. Nggak pakai jeda, nggak pakai skip, dan tetap lanjut meski hujan turun atau badan capek banget. Kedengarannya mustahil, ya? Tapi itulah yang dilakukan oleh Hugo Farias, mantan eksekutif berusia 45 tahun yang memutuskan untuk menantang batas dirinya dengan lari 366 maraton tanpa henti.

Ketika Lari Jadi Jalan untuk Cari Makna Hidup

Awalnya, Hugo hanyalah pria kantoran biasa yang sudah dua dekade berkutat dengan kontrak teknologi. Tapi suatu hari, muncul pertanyaan besar di kepalanya: “Masa iya hidup gue cuma gini-gini aja sampai pensiun?” Terinspirasi dari petualang laut legendaris Brasil, Amir Klink, Hugo pun memilih tantangannya sendiri—bukan melintasi samudra, tapi menaklukkan daratan lewat lari.

Misi Hugo? Menyelesaikan satu maraton penuh setiap hari selama 366 hari. Bukan cuma demi rekor, tapi juga untuk membuktikan bahwa batas manusia bisa lebih luas dari yang kita kira. Padahal sebelumnya, ia baru pernah ikut satu maraton! Dengan persiapan matang selama 8 bulan, Hugo menyusun jadwal latihan, pola makan, dan membentuk tim ahli—termasuk dokter, fisioterapis, psikolog olahraga, serta dukungan medis dari InCor (Institut Jantung di São Paulo).

9.671 Kilometer dan Mental Baja

Perjalanan dimulai pada 28 Agustus 2023. Sepanjang setahun, Hugo menempuh jarak total 9.671 km! Ia menghadapi hujan, pagi dingin, kemacetan, dan tentunya godaan untuk menyerah. Tapi dengan tekad sekeras baja, ia terus berlari. “Saya tahu risikonya—cedera, urusan keluarga, masalah fisik. Jadi semua saya rencanakan dengan rinci,” kata Hugo.

Apa Kabar Jantungnya Setelah 366 Maraton?

Yang bikin perjalanan ini makin menarik adalah penelitian medis yang intensif terhadap kondisi jantungnya. Dr. Maria Janieire Alves, seorang kardiolog yang terlibat, menyebut proyek ini sebagai hal revolusioner. Setiap bulan, Hugo menjalani tes stres jantung, pengukuran konsumsi oksigen, hingga echocardiogram tiap tiga bulan.

Hasilnya mengejutkan—tidak ada kerusakan pada jantung. Serius! Dengan detak rata-rata 140 bpm, Hugo tetap berada di zona aman (70-80% dari batas maksimal untuk usianya). Artinya, selama intensitas tetap terkontrol, tubuh bisa beradaptasi bahkan terhadap aktivitas ekstrem seperti ini.

Dr. Filippo Savioli, yang tidak terlibat langsung, menambahkan: “Selama beban olahraga tinggi tapi intensitasnya sedang, jantung nggak akan mengalami kerusakan permanen.” Tapi ia juga mengingatkan—jangan coba-coba tantangan ekstrem ini tanpa pengawasan ahli!

Lelah, Cedera, dan Pelajaran Berharga

Tentu saja, perjalanan Hugo tidak selalu mulus. Ia sempat terkena plantar fasciitis (nyeri di telapak kaki), pubalgia (nyeri selangkangan), bahkan diare parah selama lima hari yang bikin berat badannya turun hampir 4 kg. Tapi Hugo tetap lanjut, kadang hanya bisa jalan sambil kompres kaki dengan es.

Dukungan psikolog juga sangat penting. Perubahan besar seperti ini bisa memicu kecemasan dan tekanan mental, dan Hugo tak ragu untuk minta bantuan profesional. Pelajaran utamanya? Tantangan fisik ekstrem bisa dicapai, asal dibarengi perencanaan matang, pengenalan diri, dan keberanian untuk mendengar tubuh sendiri.

Lanjut ke Misi Berikutnya: Lari dari Alaska ke Argentina!

Setelah menyelesaikan 366 maraton, Hugo menulis buku berjudul “It’s Never Too Late to Write a New Story”. Tapi ia belum berhenti. Tantangan barunya? Lari dari Alaska ke Tierra del Fuego (ujung Argentina)—sekitar 53 km per hari selama 300 hari! Ia bahkan berencana membuat dokumenter untuk menginspirasi banyak orang.

Kamu mungkin nggak perlu lari maraton tiap hari seperti Hugo. Tapi cerita ini ngasih satu pesan penting: tubuh kita luar biasa, dan kepercayaan pada diri sendiri bisa membuka pintu ke potensi yang belum pernah kita bayangkan.

Gimana menurut kamu? Berani coba lari maraton tiap hari? Atau cukup lari ke warung aja dulu? Yuk, bagikan pendapat atau pengalaman kamu soal olahraga ekstrem di kolom komentar!